Catatan diskusi FTJ 2016

Saling-Silang Tubuh Dalam Seni Pertunjukan

Teater dengan segala kemampuannya, selalu menjadi tempat untuk bertindak dan bersikap bagiku. Ia mampu mengadakan tantangan bagi dirinya sendiri dan bagi penonton dengan memporak-porandakan visi, perasaan dan pendapat stereotipe yang telah mapan…lebih menggetarkan karena teater “tercitra” di dalam organisme pernafasan orang, dalam tubuh dan detak jantungnya. Aktor melakukan penyerahan diri secara total. Ini adalah teknik trance, suatu teknik integrasi antara psikis dengan kekuatan tubuh aktor yang muncul dari pengenalan yang paling intim terhadap diri dan nalurinya yang memancar dari apa yang disebut trans lumination.” (Jerzy Grotowski, sutradara teater)

“Teater Melarat identik dengan konsep poor theatre-nya Grotowski. Yang penting dalam teater adalah aktor, bukan yang lain-lain.” (Tengsoe Tjahyono, aktor, sastrawan)

“Kekuatan aktor yang ditunjang modal dasar aktor yang ampuh inilah yang kemudian berkembang menjadi konsep ‘berangkat dari yang ada’” (Darmanto Radjab, aktor)

“Bagiku, tari itu ya tubuh, tubuh yang berbicara.” (Eko Supriyanto, koreografer, penari)

“A good dancer is a good dancer whatever style.”
“I was always working very hard, and I only wanted to be a dancer. My wish was only to dance. I found only that dancing was the way I expressed myself. And I found with music and with movement there was something that was me.” (Pina Bausch, koreografer, penari)

Pernyataan para tokoh, kreator dan seniman tersebut di atas menguatkan pandangan perihal tubuh sebagai sentral dalam penciptaan karya seni pertunjukan. Dalam katalog Festival Teater Jakarta (FTJ) 2016 disebutkan bahwa dalam kerja teater tubuh aktor adalah modal kerja utama pemanggungan. Namun demikian, telaah tentang tubuh dari berbagai perspektif belum banyak dilakukan.

Diskusi yang bertajuk Estetika dalam Tantangan Masa Kini adalah ruang yang dihadirkan guna mewadahi perbincangan atas tubuh dalam Seni Pertunjukan. Diadakan pada 6 Desember 2016 di lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), diskusi ini merupakan rangkaian perhelatan FTJ (21 November – 9 Desember 2016). Dua pembicara yang dihadirkan, A. Setyo Wibowo dan Heri Lentho, saya anggap mewakili pandangan tubuh dari latar belakang filsafat “timur dan barat”.

Heri Lentho dalam pemaparannya mengingatkan saya akan kepekaan tubuh “timur” terutama dalam keterhubungannya dengan alam, yang beberapa kali saya tangkap pula dari pengalaman ketubuhan koreografer-penari, Sardono W. Kusumo. Dalam perjalanannya menyusuri Sungai Mahakam Kaltim, tiba-tiba pemandu sekaligus pengemudi perahu yang ditumpangi Sardono dan tim, menghentikan perahu dan meminta seluruh penumpang mengosongkan perahu, karena perahu akan dibalik. Hal itu harus dilakukan karena di hadapan mereka adalah arus berbahaya yang tidak mungkin dilalui.

Setelah itu dilakukan dan menunggu beberapa waktu di tepi sungai, datang sekelompok warga suku Dayak. Mereka masuk ke sungai membentuk formasi, melakukan gerakan-gerakan dan mengeluarkan suara-suara, menyerupai ritual tertentu. Kemudian satu-satu mereka menyelam dan muncul ke permukaan sungai dengan membawa barang-barang milik rombongan (termasuk elektronik), yang tercebur ke air ketika perahu dibalik. Semua barang terselamatkan.

Heri Lento menuturkan pengalamannya berjumpa pak Marsudi, seorang penganut Hindu-Jawa. Beliau menari di upacara-upacara Hindu, dan dengan tariannya itu ia mampu menghubungkan tubuhnya dengan alam, sehingga turun hujan. Dari pengalaman itu Heri mempelajari bagaimana manusia menghidupkan inderanya.

Salah satu sumbernya adalah pengetahuan Hindu. Dalam pengetahuan Hindu termuat konsep tentang terbentuknya Bhuana Agung terutama pada Roh Agung menciptakan unsur halus berupa panca driyani (lima indera) pembangkit getaran dan menghasilkan lima benih unsur yang sangat halus tanpa bentuk, yaitu benih suara, benih warna, benih rasa, benih bau, dan benih sentuhan/peraba. Pada Bhuana Alit dalam tubuh manusia berwujud panca indera yaitu telinga, kulit, mata, lidah, hidung. Selain itu Heri juga merujuk Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, yang pada epilognya menyebutkan bahwa semua agama dan kepercayaan baik yang purba maupun yang terbaru, media bertemu tuhan adalah melalui musik.

Dari kedua rujukan tersebut Heri menemukan kunci yang selanjutnya ia kembangkan dalam proses kreatifnya, yaitu getaran. Selain getaran dalam bentuk bunyi yang bersumber dari tubuh maupun alat/benda, Heri melakukan pengolahan energi dan kekuatan tubuh. Baginya, akhir sebuah pertunjukan adalah potret yang merangkum nilai pertunjukan tersebut. Karenanya, energi getaran di sini harus benar-benar terasa sangat kuat. Lampu panggung yang meredup jusru harus mengesankan sebagai lampu kilat kamera yang memoret (inti) pertunjukan itu. Layaknya doa, energi pertunjukan harus terbawa pulang oleh penonton, tersimpan di dada dan terus melayang dalam imajinasi masing-masing.

Menurut Heri di sinilah teater/seni pertunjukan berfungsi memanusiakan manusia, yaitu teater yang menyalakan kembali fungsi ke-indera-an manusia seutuhnya. “Apa yang dimaksud seni mempunyai fungsi memanusiakan manusia?”, “Apakah manusia yang akan menonton seni pertunjukan nanti, sudah bukan manusia lagi?”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah perpanjangan dari pengamatan Heri bahwa tubuh manusia sekarang telah menjadi bagian kata kerja peralatan teknologi: alat transportsi modern (sepeda motor, mobil, pesawat, kereta api), komputer, telepon seluler, peralatan rumah tangga modern (kompor listrik, seterika, pemanas air, pendingin ruangan, oven, dll). Semua peralatan tersebut telah menjadi bagian rutinitas tubuh dari waktu ke waktu.

Menurutnya tubuh rutin manusia memerlukan relaksasi, raga dan jiwa, untuk penyegaran kembali keberadaan kemanusiaannya. Dalam posisi penyegaran inilah peran Seni Pertunjukan menjadi penting: Bagaimana teater dapat berperan sebagai ruang meditasi ketubuhan penonton.

Ia melihat, pada masyarakat yang maju, seperti Jepang, mereka melihat teater begitu penting. Bagi mereka menonton teater seperti menyegarkan tubuh yang mengalami kejenuhan dan kepenatan. Bahkan di sana sudah terlihat potret sosial masyarakat tampak di kehidupan teaternya. Teater Sehat = Masyarakat Sehat, Teater Sakit = Masyarakat juga sakit. Nah, pertanyaannya yang menggelitik adalah apakah potret kejiwaan masyarakat kita berbanding lurus dengan potret perteateran di negeri ini ?